Neraca Dagang Surplus 70 Bulan Beruntun, Sinyal Positif Ekonomi RI
- Created May 06 2026
- / 1322 Read
Di tengah gejolak ekonomi dunia yang tidak stabil karena perang diberbagai belahan bumi, namun ekonomi Indonesia tetap tangguh bahkan surplus dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
Neraca perdagangan Indonesia di awal 2026 masih mencatatkan surplus di tengah ketidakpastian global. Tercatat surplus telah terjadi selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga Februari 2026.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan hal itu memberikan sinyal positif bagi ekonomi Indonesia. Neraca dagang yang surplus menandakan tingkat produksi dan penguasaan pasar internasional dalam kondisi baik.
"Kenapa bisa terjadi begitu? Ada perubahan secara struktural dari ekspor kita yang memang banyak meningkat," kata Faisal kepada detikcom, Minggu (3/5/2026).
Faisal menilai kontributor terbesar dalam surplus neraca perdagangan Indonesia adalah ekspor komoditas besi dan baja, serta produk turunan nikel. Kondisi ini merupakan dampak positif dari hilirisasi yang terus didorong pemerintah.
"Catatannya memang sebagian besar masih dalam bentuk nilai tambah yang belum terlalu tinggi. Ya masih di besi baja dalam pengolahan tingkat awal. Padahal kalau mau nilai tambahnya lebih tinggi lagi, dihilirkan ke yang lebih punya nilai tambah lebih tinggi, maka kontribusi terhadap ekspornya lebih besar," jelas Faisal.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia masih akan terus berlanjut ke depan. Pada Maret 2026 nilainya diperkirakan lebih tinggi karena kenaikan permintaan dari negara mitra akibat konflik Timur Tengah.
"Untuk neraca dagang Maret 2026, surplus diperkirakan melebar menjadi sekitar US$ 2,77 miliar. Pendorong utamanya adalah perbaikan permintaan dari mitra dagang terutama karena sebagian mitra dagang Indonesia mempercepat pembelian dan menambah persediaan untuk mengantisipasi kenaikan harga serta gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah," imbuhnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari-Februari 2026 mencapai US$ 2,23 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan nonmigas yaitu US$ 5,42 miliar, sementara perdagangan migas mengalami defisit US$ 3,19 miliar.
Secara total tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu Amerika Serikat sebesar US$ 3,11 miliar. Kemudian disusul India dengan surplus US$ 2,29 miliar dan dengan Filipina surplus US$ 1,54 miliar.
Surplus pada periode Januari-Februari 2026 terutama didorong oleh komoditi lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai mencapai US$ 6,49 miliar. Kemudian disusul bahan bakar mineral surplus US$ 4,01 miliar, besi dan baja surplus US$ 2,70 miliar, nikel dan barang daripadanya surplus US$ 1,97 miliar, serta alas kaki surplus US$ 0,99 miliar.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















